Rabu, 15 April 2009

Pengakuan Dosa

Sudah lama sekali daku tidak bersua dengan blog ini! :3 Gue baru pulang dari perjalanan 4 hari di Bali kemarin dan sekarang ada banyak banget hal yang ingin gue tulis. Percaya deh, gue akan menahan diri untuk tidak mengomel mengenai supir gue yang bawelnya naujubila, bagaimana kuping gue budek gue jejelin earphone demi memblokir racauan si supir, kenapa makanan hotel itu gak enak, dan kenapa Bali tuh mahal en de panas. Tapi pantainya asoi sih, gue akui, tetep aja XD

Mau mulai dari mana? Lebih baik detail-detail perjalanan mah gak usah dibahas kali ya? Soalnya paling juga itu ngebosenin, bahkan bagi gue. Tapi kemaren tuh gue baru habis membaca satu buku yang bikin gue terpana (kenapa gue malah baca buku pas liburan, kata lo? Well, gini yah, kemaren tuh gak bisa disebut liburan juga secara tujuan awal adalah mengantar gue tes Udayana dan akhirnya end up jadi ortu gue hunting buat angkul-angkul dan ukiran batu bali. Menurut lo gue ngapain aja di dalem mobil selaen menggendutkan diri dan membaca buku?) dan buku itu adalah La Dame aux Camelias.

Gadis berbunga kamelia.

Karangan Dumas Jr. Anak *haram* dari Dumas Sr. yang bikin the Count of Monte Cristo. Yang novelnya begitu membuat gue terpana sampai gue pakai nama Morcerf untuk karakter gue di IH. Saking gue cintanya sama itu novel... Tapi gak mungkin gue pake nama Dantes kan? Jiplak amat gitu mah. Dan ini, anaknya, yang membuat cerita roman, yang seharusnya ecekeble termehek-mehek sebagaimana cerita roman biasanya, bikin gue menitikkan air mata. Gue pengen sih bilang "Najis." tapi emang sebegitunya buku ini membuat gue sedih. Sedih karena mungkin aja ada manusia yang seperti itu.

Di depan patung Ganesha dan Rahwana, gue inget, gue selesai baca surat-surat Marguerite Gautier untuk kekasihnya, Armand Duval. Dan emang Armand itu cengeng, tapi itu karena dia mencintai, dan ga bisa dipersalahkan untuk itu. Ada ya buku yang membuat gue sadar kalau semua cerita itu mungkin terjadi, bahwa khayalan semata itu gak mungkin menggerakan emosi sebegitunya, kalau semua ini dibumbui oleh kemungkinan bahwa di suatu tempat hal tersebut bisa terjadi. Kalau semua khayalan itu mungkin. Dan itu membuat gue sedih karena gue menulis sesuatu yang kemungkinan besar tidak akan terjadi. Buku yang membuat gue mengakui bahwa selama ini gue begitu sombong untuk meminimalisir kemampuan manusia untuk merasa lebih dalam, mungkin banyak yang nggak ngerti gue ngomongin apa, tapi bagi yang tahu, bagi yang ikut IH dan kenal karakter gue; gue merasa karakter gue kosong.

Sumpah, kosong.

Gue menulis berbayangkan Dorian Gray, Lord Henry dan Basil. Lalu Nicolas sebagai pembaca, cerminan diri gue yang juga terpesona sama narasi Lord Henry di pembukaan mengenai kecantikan, kemudaan, dan keabadian. Mengenai pembenaran bagi segala yang absurd dan dosa. Kalian pernah baca Dorian Gray? Baca yang bahasa Inggris dan lo akan ngerti kenapa Oscar Wilde dituntut karena menyesatkan generasi muda. Gue sendiri takut waktu itu, gue takut terhasut dan terhanyut sama semua narasi di dalamnya yang membuai. Itu. Dan topik mengenai dendam, seperti di buku Count of Monte Cristo, dibumbui pengampunan dan cinta.

Tapi gue gak pernah berpikir semurni cinta. Semurni Armand yang nangis meraung karena Marguerite mati sebelum pernah melihat Armand lagi. Gue nangis karena Armand yang balas dendam dengan nyakitin Marguerite yang udah hampir mati. Gue nangis karena wanita macam Marguerite mencari penebusan dosa dengan meninggalkan satu-satunya pria yang dia cintai demi kebahagiaan perawan suci, demi adik Armand. Demi Blanche.

Gue akan spoil itu satu buku kalo bisa.

Gini yah, kalian boleh bilang gue tipe-tipe romantis lembek bla-bla-bla dan gue gak akan nolak kok. Karena gue bahagia bisa begitu, bahagia bisa melihat semuanya lewat kaca warna merah muda--nggak juga sih, tapi hidup gue romantis, menurut gue sih. Dan di perjalanan ini juga gue melihat bahwa ada darah yang mengikat, bahwa sejarah itu berulang, bahwa garis sifat itu diturunkan. Betapa gue seneng ngedengerin orang tua gue mengenang bulan madu mereka di Bali. Waktu mereka masih miskin dan gak punya apa-apa, mereka nabung buat bisa ke Bali dan nikmatin semuanya. Ibu gue masih bisa ngasi tau di hotel apa mereka tinggal, hotel kecil yang udah ga ada sekarang. Dan semua kenangan kecil lainnya. Gak semua orang seberuntung mereka.

Bokap gue yatim piatu, nyokap gue yatim. Dua-duanya miskin sampe makan aja susah, tapi mereka beruntung karena bertemu. Ibu gue masih kelas 1 SMA dan bokap gue kelas 3 waktu mereka mulai pacaran. Pacar pertama mereka. Dan gak semua orang bisa seberuntung itu ketemu cinta yang tulus di tembakan pertama kan? Gue geli dengernya, sekaligus kagum. Sewaktu nyokap gue diusir dari rumahnya (dia numpang saudara btw, nenek gue jadi koki di Brunei), waktu dia luntang-lantung di jalan, bokap gue langsung ngasih uang beasiswa dia supaya nyokap gue bisa tinggal di asrama. Itu waktu mereka kuliah, dan mereka bisa sekolah sejauh itu semata-mata karena beasiswa penuh pemerintah. Dan untuk menutupi biaya sekolah bokap gue, bareng-bareng mereka kerja. Jualan ayam lah, ngerjain skripsi orang lah, nyokap gue gambar untuk dijual ke tukang sablon lah. Mereka miskin tapi mereka beruntung. Tujuh tahun mereka bareng sebelum nikah dan sampe sekarang.

Bokap gue ga romantis, tapi nyokap gue iya. Kalian tahu gak rasanya saat nyokap gue pernah bilang kalau dia gak bisa bayangin gimana kalau bokap gue meninggal duluan? Bahwa nyokap gue menahan diri untuk nggak pergi haji demi menjaga iman bokap gue (ceritanya panjang). Bahwa mereka tuh cinta sejati dan gue gak bisa bilang selain itu.

Lalu bandingin dengan kisah nenek gue yang udah hajjah sekarang di usia 64 tahun dan masih merokok dengan gagahnya. Kisah dia juga bikin gue tersentuh. Anak badung, emang, wayward child yang diasingin sama saudara-saudaranya sendiri. Nenek gue ketemu kakek gue juga di kelas 1 SMA. Ada satu pertengkaran hebat yang membuat nenek gue kabur dari rumah satu hari, dan dengan begonya dia lari ke rumah kakek gue. Besoknya, kakek gue nganterin nenek gue balik, setelah menasehati dia semaleman, dan langsung ngelamar nenek gue agar gak terjadi fitnah.

Itu. Demi menjaga nama baik nenek gue.

Umur 20, nenek gue udah punya 3 anak. Umur 21, kakek gue mati kecelakaan. Bisa kalian bayangkan keadaan nenek gue? Setengah gila. Itu cinta pertama nenek gue, mungkin cinta sejatinya walaupun nanti di masa depannya dia menikah lagi demi anak-anak. Yang jelas saat itu nenek gue mencintai seorang pria sampai sebegitunya. Penghiburan yang dia dapat waktu itu adalah sekotak rokok yang tertinggal di salah satu saku kemeja mendiang kakek gue. Nenek gue nemuin itu saat sedih-sedihnya, saat rindu sama mendiang suaminya, dan ada sekotak rokok. Yang baunya sama seperti kakek gue. Isapan pertama bikin dia nangis lebih keras, kata nenek gue, isapan kedua membuat dia tenang, di isapan ketiga dia seakan melihat kakek gue ada lagi di hadapannya. Dan isapan-isapan seterusnya membuat dia terus hidup, terus kuat untuk anak-anaknya, untuk hidup, simpelnya aja. Sampe sekarang rokoknya juga masih sama itu-itu aja. Yang bau cengkeh. Dan nenek gue seger buger loh, dia sama sekali gak kayak perokok berat kecuali badannya aja yang kurus. Udah haji juga, rokok tetep jalan...

Itu dua generasi di atas gue. Nah, gue? Cinta itu basi. Perintang jalan hidup dan perusak masa depan. Gue mimpi muluk pingin beruntung menemukan cinta seperti nenek dan ibu gue. Dengan begonya, dengan naifnya, gue percaya cinta itu untuk semua orang. Dicintai itu hanya kemewahan bagi mereka yang cantik sebagaimana ibu dan nenek gue adalah yang tercantik di sekitarnya. Cantik, cerdas, tapi gue? Sayang, sekarang gue sadar bahwa gue itu diciptakan untuk mencintai dan bukan untuk dicintai dan gue menerima fakta itu dengan lega sekarang setelah gue menjalani segalanya.

Bahwa gue akan menjadi Armand bagi kekasih gue nanti dan bukan Marguerite. Ah, itu peran yang lebih mudah bagi sifat alamiah gue karena satu kecapan di ambang kematian sudah cukup. Saat darah yang sama seperti dari pembuluh nenek dan ibu gue dikuras habis, saat pernyataan cinta itu hanya omong kosong dan gue melihat semua kehidupan gue melintas di mata. Saat semuanya, Emmet dan Adelle tercinta datang menjadi penghiburan dan penyelamatan. Pelajaran yang gak mungkin dilupakan bahwa bahkan gue sekali pun nyaris mati karena cinta. Karena dicintai dan membiarkan diri dicintai dengan cara seperti itu. Belajar untuk mencintai sebagaimana Armand mencintai adalah apa yang gue pelajari. Nggak semua orang diciptakan untuk menjadi Marguerite. Gue akan lebih bahagia kalau bisa mencintai setulus M. Duval pada Mme. Gautier.

Iya gue tahu, mimpi itu konyol dan seharusnya sekarang gue mulai mikirin ** (kata tabu ituh) daripada mikirin yang lain. Tapi gue nangis, darling. Gue bisa-bisanya nangis gara-gara buku itu dan semua dosa kembali merundung. Gue tahu gue akan pergi ke neraka dulu sebelum ke surga, dosa gue gak akan bisa kalian bayangkan, dan entah mungkin gue mati bertahun lalu saat dia mati juga. 4 Juni 2007, gue pernah mati. Gue pernah menghilang untuk sesaat dan saat itu gue pernah berdoa untuk sebuah hukuman mati, atau apapun untuk menebus segala dosa gue. Tapi gue hidup, Tuhan membiarkan gue hidup sampai sekarang dan terus mengingat masa lalu yang sesusah apapun gue kubur akan selalu gue ingat. Dan memberi kekuatan untuk terus mencintai seseorang, sesuatu, segalanya.

Aih, ini lebih menyenangkan daripada menerima peran pasif yang dicintai sementara kaki tangan gue diborgol dan gue dimasukkan ke dalam sangkar. Gue menciptakan Nicolas untuk mencintai, Kristobal untuk memuja, Maximillian untuk memimpikkan kebahagiaan, dan Francis untuk mengatakan segalanya. Gue mengabadikan segalanya dalam bentuk Dorian Gray, dalam bentuk ketampanan yang abadi. Tapi gue menghilangkan satu hal, satu hal yang Basil selalu katakan, sesuatu yang gak bisa diungkapkan dengan kata-kata, sesuatu mengenai jiwa. Kenapa sedikit banyak gue terikat sama karakter itu? Gue bermimpi terlalu banyak, dan selama gue masih bermimpi, selama itu pula kemungkinan berkembang, cerita mereka mengalir dan selamanya Morcerf hidup di kepala gue karena eksistensi mereka adalah mimpi dan bunga di taman ilusi ini.

Satu hari mereka juga akan mencintai seperti Armand. Mungkin bukan untuk Marguerite saja, untuk semua yang mempesona bagi gue. Selalu ada, Muses di setiap belokkan yang gue lalui. Sayang, gue mencintai segala keindahan. Fisik mempesona gue, tapi yang ada di dalam lebih lagi. Temen gue pernah nanya, gimana kalau satu saat kita menyukai seorang pria tampan sampai benar-benar dalem sementara pria itu menganggap kita jelek. Anehnya, figur khayalan itu langsung berubah menjadi objek di bayangan gue. Seperti lukisan yang indah aja. Semudah itu kita mencinta dan membenci. Kenapa gue terikat pada dunia maya? Karena di sini banyak karakter-karakter indah yang dibentuk (walau mungkin oleh jiwa yang tidak begitu indah ataupun segala kekurangan fisik lainnya) yang membuat gue jatuh cinta pada mereka. Dan sedikit banyak para pemain di belakang layar juga memikat gue.

Di sini kata-kata menjadi deskripsi bibir ranum dan bulu mata lentik, kisah hidup mereka menjadi tubuh semampai dan jemari lembut, masa lalu dan masa depan adalah nyanyian dan rayu mereka. Gimana bisa gue gak jatuh cinta? Ada banyak pikiran liar yang sekarang malah menguap hilang padahal begitu mengganggu gue selama di Bali. Ada banyak lagi yang pengen gue tulis. Tapi ini saja, ini sudah cukup. Bahwa ada saatnya makhluk dengan segala keterbatasan menyadari apa yang bisa dia lakukan. Ada banyak yang ingin gue kutip, tetapi mungkin di lain waktu. Sekali lagi gue jatuh cinta oleh orang bernama Dumas.

Dan bagi orang-orang yang pernah gue panggil sebagai Muse gue, tolong percaya, kalau gue mencintai kalian dengan tulus. Bukan sebagai objek, lebih seperti memuja, mungkin seperti (atau menyerupai) Armand yang mencintai Marguerite.

Tidak ada komentar: